Selasa, 09 Agustus 2016

Berobat dengan Stem Cell? Bagaimana Hukumnya?

Orang yang sedang ditimpa sakit, tentu hal yang harus dilakukan adalah mengobatinya dan berdo'a kepada Allah Ta'ala supaya penyakitnya segera sembuh. Metode pengobatan pun bermacam-macam, ada yang dengan obat-obatan herbal, obat kimia, memanfaatkan obat dari tanaman, dan berbagai macam pengobatan modern lainnya.

Di dalam Islam pun, ketika seorang hamba sedang sakit, disarankan untuk segera mengobatinya. Ini merupakan salah satu cara menyayangi diri sendiri dengan merawatnya. Segala hal boleh digunakan untuk obat, asalkan halal.
Ilustrasi stem cell / Gambar via geneticliteracyproject.org
Baru-baru ini, ada pengobatan yang dinamakan dengan stem cell. Metode stem cell atau sel punca yaitu metode yang dapat menggantikan sel yang rusak atau sel yang telah mati. Misalnya mengganti sel jantung pada kerusakan jantung, mengganti sel syaraf pada kasus stroke, dan lainnya.

Dalam hal ini adalah mengganti menggunakan plasenta bayi atau sel darah yang digunakan untuk berobat. Bagaimana hukumnya?

Fatwa dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin membolehkan pengobatan dengan plasenta. Karena secara ilmu kedokteran, plasenta bukanlah bagian dari organ tubuh bayi. Jika memang itu merupakan organ tubuh manusia, maka hukum asalnya suci.

Mengenai pengobatan dengan darah, darah manusia adalah najis. Ada surat dalam Al Qur'an yang mendasarinya.

"Katakanlah: Tiadalah Aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bankai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena sesungguhnya semua itu kotor." (QS Al An'am: 145)

Selain anggapan bahwa darah itu najis, ada juga anggapan bahwa darah itu tidak najis. Yang pertama karena hukum asal sesuatu suci, sampai ada dalil yang mengharamkan.

Kedua, makna 'rijs' dalam surat Al An'am 145 bukanlah najis secara hakikat, tetapi najis secara maknawi. Selanjutnya, para sahabat dulu ketika berperang dengan luka di tubuh dan bajunya, tetapi tidak ada perintah untuk membersihkannya.

Dan yang keempat adalah, bahwa mayat manusia itu suci. Maka terlebih lagi darah yang ada di dalamnya. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Jasad seorang mukmin tidaklah najis."

Lalu, bagaimana hukum memanfaatkan darah manusia?

Secara umum, darah diharamkan untuk dimakan. Ulama juga menjelaskan suatu kaidah berdasarkan hadits, jika sesuatu diharamkan memakannya, maka diharamkan juga untuk menjual dan memanfaatkannya.

Namun ketika darurat dan jalan satu-satunya hanyalah menggunakan darah, maka diperbolehkan. Sebagaimana fatwa ulama mengenai bolehnya transfusi darah manusia, asalkan darah tersebut tidak diperjualbelikan.

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan plasenta untuk pengobatan itu diperbolehkan. Dan darah manusia tidaklah najis, hal ini berdasarkan pendapat terkuat. Hukum asal haram memanfaatkan darah manusia, kecuali jika keadaan darurat. Stem cell dengan menggunakan darah pada plasenta termasuk hukum memanfaatkan darah manusia, maka hukum asalnya adalah haram. Kecuali jika digunakan untuk pengobatan darurat dan merupakan jalan satu-satunya seperti transfusi darah dan terbukti berhasil secara ilmiah melalui penelitian, bukan hanya berdasarkan praduga saja atau masih belum jelas hasilnya.

Wallahu a'lam bishawab.
Berobat dengan Stem Cell? Bagaimana Hukumnya? Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ratih April
 

Top