Senin, 02 Februari 2015

Kisah Perampok dan Amal yang Menyelamatkannya

Alkisah, ada sebuah benteng yang dikuasai sekelompok perampok. Benteng yang berada di puncak gunung itu dijadikan  markasnya. Pemimpinnya adalah mantan seorang penggembala. Banyak pencuri yang bergabung dengannya. 

Kelompok ini sering beroperasi di daerah pinggiran. Membajak harta orang di jalan dan merampas barang milik orang-orang kampung. Mereka membuat kerusakan, kemudian kembali ke benteng itu. Tidak ada yang berani menangkap mereka sampai akhirnya datang Abul Fadl Ibnul Amid.
ilustrasi perampok / Dok : dragonball.wikia.com
Bersama prajuritnya, Abul Fadl mengepung benteng sehingga terjadilah pertarungan hebat. Para perampok tidak tinggal diam dan mengadakan perlawanan. Tetapi Abdul Fadl lebih kuat dan akhirnya berhasil menguasai benteng sekaligus menawan 50 orang gerombolan perampok.

Karena gerombolan perampok ini sudah sangat meresahkan warga, Abul Fadl menghukum mereka dengan cara mengerikan. Para tawanan ini digiring ke puncak gunung. Lalu satu persatu dari perampok tersebut dilemparkan.

Tak ayal kematian pun harus mereka terima sebagai hukumannya. Mereka yang dilempar itu jatuh dengan kondisi mengenaskan karena benturan keras dengan batu-batu gunung yang runcing. Tak satupun dari mereka yang selamat.

Tetapi anehnya ada seorang pemuda yang baru tumbuh jenggot dan kumisnya, selamat meski dilemparkan dari atas gunung. Tidak cedera sedikit pun, tali yang mengikatnya tercerai berai.

Abul Fadl dan semua orang yang ada di puncak gunung itu terang saja kaget bukan kepalang, kenapa pemuda itu bisa selamat? sementara teman-teman lainnya termasuk pemimpin perampok sendiri sudah menemui ajalnya.

Penasaran Rahasia Amalnya
Sang punggawa itu penasaran sekaligus murka. Makanya, ia langsung memerintahkan anak buahnya agar menghadapkan pemuda aneh itu. Pemuda itu kembali ditangkap dan diikat tangannya kemudian diperintahkan untuk dilemparkan lagi.

Tetapi mereka yang ada di situ memohon agar dia diampuni saja. Abul Fadl menolak. Mereka pun diam. Kembali pemuda itu dilemparkan. Subhanallah! Upaya kedua ini pun tak membuahkan hasil. Sebab kembali pemuda itu setelah jatuh di tanah mampu bangkit kembali, dan berjalan dengan tegak.

Ini sungguh tak bisa dinalar akal sehat. Semua orang yang melihatnya hanya bisa mengucap takbir dan tahlil. Mereka kembali memohon bahkan ada yang menangis agar pemuda itu diampuni saja. Karena desakan orang-orang di sekitarnya, akhirnya Abul Fadl luluh, malu campur heran.

"Kalau begitu, bawalah dia kemari!" Perintah Abul Fadl.

Setelah dihadapkan pemuda itu, tali pengikatnya dilepas dan diberi baju. "Ceritakanlah dengan jujur tentang rahasiamu sehingga kau bisa selamat!"

"Aku tidak tahu amal apa yang membuatku selamat dari hukuman tuan. Hanya saja, dulu saat aku masih belia sekali, aku pernah bersama guruku yang termasuk korban yang terbunuh hari ini. Guruku sering membawaku keluar bersamanya. Kami merampok uang di jalan, membunuh, merampas harta orang, mencemari kehormatan wanita, dan mengambil semua apa yang kami dapati. Bila aku tidak menuruti pertintahnya, maka dia akan menyiksaku dan mengancam akan membunuhku."

"Apa kamu puasa dan sholat?" tanya Abul Fadl.

"Aku tidak kenal sholat. Aku tidak puasa dan memang tidak ada satu pun di antara kami yang berpuasa."

"Kalau begitu, amal apa yang kamu kerjakan hingga Allah menyelamatkanmu? Apa dulu kamu bersedekah?" tanya Abul Fadl.

"Tidak." jawab si pemuda.

"Coba pikirkan dan ingat-ingatlah amal apa yang kamu kerjakan ikhlas karena Allah walaupun amal itu kecil?"

Rupanya sang punggawa itu masih belum bisa menalar akal sehatnya. Demikian pula dengan orang-orang yang menyaksikan pemandangan yang mustahil tersebut. Bayangkan, dilempar dari ketinggian atas gunung, ia masih selamat tanpa sedikit pun terluka. Padahal teman-teman lainnya sudah tewas dalam kondisi yang mengenaskan.

Terungkapnya Rahasia Amal si Pemuda
Dicerca dengan berbagai pertanyaan seperti itu, sejenak si pemuda berifikir dan ia teringat akan satu hal. "Begini tuanku, 2 tahun lalu, guruku (pemimpin perampok) pernah menyerahkan seorang tawanan setelah semua barangnya dilucuti dan dibawa ke benteng. Guruku berkata pada tawanan itu, 'Kau boleh menebus dirimu dengan harta yang kau simpan di keluargamu. Kalau tidak, kau akan kubunuh'. Tawanan itu menjawab, 'Aku tidak mempunyai apapun selain yang telah kau ambil dariku'.

Berhari-hari tawanan tersebut disiksa, tetapi tetap tidak mau mengaku. Sampai pada suatu saat dia tak lagi kuat menahan penderitaan itu. Ia bersumpah seyakin-yakinnya bahwa dia tidak mempunyai apa-apa selain yang diambil oleh guruku. Dia jelaskan bahwa kondisi keluarganya juga tidak mampu.

Selanjutnya si pria itu pasrah untuk mati. Setelah guruku yakin bahwa pria itu tidak berdusta, dia berkata kepadaku, 'Keluarkan dia dan bawalah ke tempat itu, lalu sembelihlah dia di sana dan bawa kepalanya padaku'.

Atas perintah itu, akhirnya kubawa pria itu turun dari benteng. Saat aku menarik tubuhnya, ia bertanya, 'Kemana kau membawaku? Apa yang kau inginkan?'. Lalu kujelaskan padanya tentang perintah guruku. Mendengar itu, dia menangis sambil memukul-mukul dirinya minta dikasihani.

Dia memohon agar aku tidak melaksanakan perintah itu. Dia katakan bahwa dia mempunyai putra-putri yang masih kecil dan tak ada yang memberikan nafkah pada mereka selain dirinya. Dia juga meminta agar aku takut kepada Allah, kemudian menjelaskan pahala orang yang mengeluarkan muslim dari musibah dunia ini. Dia memintaku untuk melepaskannya.

Entah apa kemudian hatiku tiba-tiba terketuk. Aku mulai merasa iba padanya. Bila aku tidak kembali kepada guru dengan membawa kepalamu, dia pasti akan membunuhku, dan dia pasti akan mengejarmu juga, kataku.

'Lepaskanlah aku, dan kau jangan langsung kembali kepadanya. Berdiamlah dulu beberapa saat, sementara aku akan lari sehingga dia tidak akan bisa menyusulku. Dengan demikian kau tidak jadi membunuhku dan pemimpinmu itu juga tidak akan membunuhmu. Insya Allah kau akan mendapatkan pahala dan Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan balasan orang yang berbuat kebajikan', katanya.

Mendengarnya aku semakin kasihan sehingga muncul ide, 'Ambillah batu dan pukulkan ke kepalaku hingga berdarah! Setelah itu kau lari secepat mungkin, sementara aku akan duduk di sini sampai kuperkirakan kau telah menempuh perjalanan cukup jauh. Setelah itu, baru aku akan kembali ke benteng'.

'Aku rasa tidak baik bila aku membalasmu untuk pembebasan ini dengan memukul kepalamu sampai berdarah'. Ujar si tawanan.

Kataku, 'tidak ada cara untuk menyelamatkan kita berdua kecuali dengan cara ini.'

Akhirnya tawanan itu melakukannya dan berlari dengan cepat. Sementara aku tak beranjak dari tempat dudukku. Setelah kuperkirakan tawanan itu berjalan lumayan jauh, barulah aku kembali k benteng menemui guruku dengan kepala bersimbah darah.

'Apa yang terjadi denganmu? Mana kepala orang itu?'

'Guru telah menyerahkan setan kepadaku, bukan orang. Ketika sampai di tanah lapang, dia langsung memukulku dan berhasil merobohkan aku di tanah serta menghantamku dengan batu seperti yang guru lihat sendiri. Kemudian dia lari sementara aku pingsan. Aku tidak bisa bergerak dari tempatku sampai darahku kering dan kekuatanku pulih kembali, barulah balik ke benteng'.

Mendengar kisahku itu, guruku segera memerintahkan anak buahnya untuk mengejar tawanan yang kulepaskan itu dan ternyata tidak membuahkan hasil.

Nah tuanku, barangkali jika Allah menyelamatkanku dengan amal yang pernah aku perbuat, maka barangkali inilah amal itu".

Pemuda memungkasi kisahnya. Setelah mendengar cerita itu, Abul Fadl malah menjadikan pemuda itu sebagai teman dekatnya. (Sumber : Majalah Hidayah / Disadur dari buku Kisah-kisah Nyata; Tentang Nabi, Rasul, Sahabat, Tabi'in, Orang-orang Dulu dan Sekarang, Syaikh Ibrahim bin Abdullah, al-Sofwa, Jakarta, Ramadhan, 1419 H).
Kisah Perampok dan Amal yang Menyelamatkannya Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Melati Oktaviani
 

Top