Senin, 27 Januari 2014

Biografi KH. Sahal Mahfudh

KH. Sahal Mahfudh adalah Rais Aam Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU). Beliau wafat pada hari Jum'at 24/1/2014 dini hari. Kelebihan Kiai Sahal terletak pada sifatnya yang sederhana, tidak mau menonjolkan diri, tidak one man show dan tawadhu'. Almarhum merupakan peneduh umat di kala gundah. Beliau suka mengayomi, tidak menggetarkan, tidak kontroversial. Beliau amat disegani, berwibawa, dan selalu menjaga kepentingan umat. Kiai Sahal memiliki nama lengkap Muhammad Ahmad Sahal bin Mahfudh bin Abdul Salam Al Hajaini. Dilahirkan di Kajen, Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada tanggal 17 Desember 1937, dari rahim seorang ibu mulia Hj. Badi'ah.

Darah yang mengalir di tubuh beliau adalah darah santri sekaligus darah pejuang. Ayahnya bernama Kiai Mahfudh bin Abd. Salman al Hafidz adalah seorang hafidzul Qur'am (hafal Al-Qur'an), pengetahuan agamanya sangat mendalam, ilmu ushulnya juga sangat mumpuni. Kiai Mahfudh meninggal dunia di penjara Ambarawa tahun 1944, karena tertangkap saat melawan penjajahan Jepang. Saat itu Kiai Sahal baru berusia 7 tahun. Sementara kalau ditarik ke atas, nasab keluarga ini mempunyai jalur ke KH Ahmad Mutamakkin seorang penyebar islam yang sangat terkenal di wilayah Kabupaten Pati pada umumnya.

Masa kanak-kanak Kiai Sahal sama halnya dengan anak-anak lain yang berasal dari keluarga lingkungan santri. Sejak kecil oleh kedua orang tuanya, Kiai Sahal mulai dibiasakan hidup dalam suasana yang religius. Saat menginjak usia sekolah, Kiai Sahal mulai belajar secara formal di Madrasah Ibtida'iyah Klaten (1943-1949). Kemudian melanjutkan studinya ke Mathliul Falah Kajen. Disamping belajar ilmu-ilmu agama, Kiai Sahal juga menekuni ilmu umum, mulai dari filsafat, bahasa inggris, administrasi, psikologi dan sebagainya kepada H. Amin Fauzan.

Dengan latar belakang pendidikan yang demikian baik, tak heran apabila Kiai Sahal Mahfudh memiliki kualitas keilmuan yang demikian luas bila dibandingkan dengan rekan-rekan sejawatnya pada saat itu. Setamat Tsanawiyah, Kiai Sahal melanjutkan pendidikannya di Pare Kediri, kemudian dilanjutkan ke Pesantren Sarang, Rembang. Tamat dari Pesantren Sarang, Kiai Sahal melanjutkan studinya ke Makkah Al Mukaromah selama 3 tahun (1961-1963) di bawah bimbingan KH M Yasin Fadani.

Sepulang dari Makkah, Kiai Sahal mulai memegang kendali Pesantren Maslakul Huda, yang didirikan orang tuanya, almarhum KH Mahfudh Salam tahun 1910. Disamping memegang pesantren tersebut, Kiai Sahal sekaligus menjabat sebagai Direktur Perguruan Islam Mathali'ul Falah.

Dibawah kendali Kiai Sahal, Pesantren Maslakul Huda tumbuh pesat. Paradigma pesantren pun diubah. Pesantren bukan lagi menara gading yang terpisah dari komunitas masyarakat sekitarnya, melainkan dijadikan pusat pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat yang menyatu dengan lingkungannya. 

Dari pesantren juga, Kiai Sahal membina petani. Para petani dibina untuk bisa melakukan berbagai pengembangan usaha. Beliau bina petani pisang, kacang dan singkong. Melalui koperasi yang dibinanya, masyarakat dilatihnya untuk mencapai kemandirian ekonomi, khususnya bagi masyarakat pedesaan sekitar pondok pesantrennya.

Kiai Sahal memiliki kualitas keilmuan yang beragam. Ilmu yang dipelajari betul-betul beliau pelihara dengan baik, sehingga ketika orang mempertanyakan sesuatu kepadanya, tanpa harus menunggu lama beliau langsung bisa memberikan jawaban secara cepat dan mengena.

Sebagai seorang yang sudah kenyang bergelut dalam keilmuan dan kemasyarakatan, Kiai Sahal banyak memberi kontribusi yang positif di lingkungan organisasi yang dipimpinnya. Di internal Nahdatul Ulama (NU), Kiai Sahal telah mengubah tradisi di kalangan NU dari fiqh tekstual menjadi fiqh kontekstual, dari dakwah melalui mimbar-mimbar (dakwah bil lisan) menjadi dakwah dengan amal perbuatan nyata (dakwah bil haal), dan dari kecenderungan kesalehan ritual (hablumminallah) menjadi kecenderungan kesalehan sosial (hablumminannaas).

Kiai Sahal merupakan sosok yang mumpuni. Hampir paham terhadap semua persoalan secara menyeluruh, dan juga cermat dalam melihat setiap persoalan. Misalnya ketika MUI mengambil keputusan tentang fatwa-fatwa yang menyangkut liberalisme. Sebagai Ketua MUI beliau menjaga diri, karena ada reaksi dari kalangan NU. Pada sisi ini Kiai Sahal selalu hati-hati untuk tidak terjebak pada konflik frontal.

Sebagai seorang kiai, Kiai Sahal hampir total terlibat dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat social enginnering atau rekayasa sosial. Komitmennya sangat jelas dalam berupaya untuk mengentaskan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Kiai Sahal menggerakkan masyarakat agar mereka bisa mandiri, dan dapat meraih kehidupan yang layak.

Langkah konkrit yang ditempuh adalah dengan menjalin kerja sama antara Pesantren Maslakul Huda yang dipimpinnya dengan berbagai lembaga penelitian untuk mencari solusi terbaik dalam permasalahan yang dihadapinya. Salah satunya dengan Lembaga penelitian seperti LP3ES, UNDIP Semarang. Sedangkan untuk pemberdayaan ekonomi, Kiai Sahal menggandeng PT. Kacang Garuda.

Kiprah Kiai Sahal dalam berhidmat untuk umat dan seluruh bangsa Indonesia ternyata mendapat apresiasi yang tinggi. Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Kiai Sahal di bidang ilmu Fiqih. Kiai Sahal memang layak mendapatkan semua itu, karena beliau terus berusaha menggali fiqih sosial dari pergulatan nyata antara kebenaran agama dan realitas sosial yang senantiasa timpang. Kiai Sahal Mahfudh memang layak menjadi panutan umat.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan tempat terbaik untuk Kiai Sahal Mahfudh di sisi-NYA. Amiinn... Alfatehah.
Biografi KH. Sahal Mahfudh Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Melati Oktaviani
 

Top