Kamis, 10 Januari 2013

Sultan Ageng Tirtayasa - Mengalahkan Kudeta Anaknya Sendiri

Di tangan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten meraih kejayaan. Ketika Banten dikuasai penjajah Belanda, sultan melakukan perlawanan tanpa batas. Kini, namanya abadi di hati sanubari masyarakat Banten. Bagi masyarakat Banten, nama Sultan Ageng Tirtayasa tentu tak asing lagi. Dialah figur panutan yang menginspirasi, pahlawan yang memiliki andil besar. Tidak hanya bagi masyarakat Banten, tapi juga bangsa Indonesia. Sebagai wujud terima kasih atas perjuangannya melawan Belanda, pemerintah Indonesia menganugerahinya sebagai Pahlawan Indonesia pada tahun 1975. Ingin mengetahui kisah Sultan Ageng Tirtayasa lebih jauh? Baca terus yuk ...

Nama asli Sultan Ageng Tirtayasa adalah Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah. Dijuluki Sultan Ageng Tirtayasa karena, sejak dikudeta oleh anaknya sendiri, Pangeran Gusti atau Sultan Haji, ia sering pergi ke Dusun Tirtayasa dan mendirikan keraton di sana. Sejak itulah beliau lebih dikenal dengan julukan Sultan Ageng Tirtayasa.


Ya, memang miris. Sang anak yang semula dididik dan dibesarkan beliau, akhirnya malah mengkudeta ayahnya dengan bantuan Belanda. Sultan Ageng memiliki dua putra, yakni Pangeran Gusti dan Pangeran Purbaya. Putra Mahkota adalah putranya yang kedua, Pangeran Gusti. Namun, sebelum diserahi tanggungjawab selaku sultan muda, Pangeran Gusti dikirim ayahnya ke Tanah Suci, Mekah, untuk menunaikan ibadah haji.

Ini dimaksudkan agar Pangeran Gusti dapat melihat lebih dekat perkembangan islam di berbagai negara demi meluaskan wawasan bagi pengembangan agama di Banten. Selama Pangeran Gusti berada di Mekah, tugas-tugas pemerintahan untuk sementara dipercayakan pada Pangeran Purbaya, setelah Sultan Ageng Tirtayasa mengundurkan diri.

Beberapa tahun kemudian, Pangeran Gusti kembali ke Banten. Namun, dia melihat peranan yang makin besar dari adiknya dalam menjalankan pemerintahan. Ia lalu menyimpan rasa iri. Hal ini memicu pertikaian antara Pangeran Gusti dan Pangeran Purbaya, demikian pula antara Pangeran Gusti dan Sultan Ageng Tirtayasa.

Adanya konflik internal kesultanan, rupanya tidak luput dari perhatian Belanda. Mereka memanfaatkan kondisi ini dan mendekati Pangeran Gusti agar menentang kebijakan ayahnya. Belanda juga "mengkompori" Pangeran Gusti hingga mencurigai Sultan Ageng Tirtayasa serta menyangka ayahnya kelak akan mengangkat Pangeran Purbaya sebagai Sultan.

Kekhawatiran ini membuat Pangeran Gusti bersedia mengadakan perjanjian dengan Belanda yang intinya melakukan persekongkolan merebut kekuasaan dari tangan Sultan Ageng Tirtayasa. Tahun 1681, Sultan Haji mengkudeta ayahnya dari tahta kesultanan.

Melihat tingkah laku anaknya yang sudah keterlaluan ini, habislah sudah kesabaran Sultan Ageng Tirtayasa. Musuh besarnya adalah kompeni Belanda, tapi untuk menggempurnya, haruslah ada kesatuan kata dari dari seluruh rakyat Banten, yaitu dengan mengganti Sultan Haji. Sultan Ageng Tirtayasa bukan perang kepada anaknya, tetapi dengan antek penjajah.

Pada tanggal 26 malam - 27 Februari 1682, dengan dipimpin langsung oleh Sultan Ageng Tirtayasa, mulailah diadakan penyerbuan ke Benteng Surosowan, Banten. Penyerbuan mendadak ini berhasil mematahkan perlawanan Surosowan. Dalam waktu singkat, pasukan Sultan Ageng dapat menguasai istana. Sultan haji Sendiri melarikan diri dan minta perlindungan kepada Jacob de Roy, bekas pegawai kompeni. Kaum imperialis ini segera mengirimkan ribuan tentara ke Banten untuk melepaskan Pangeran Gusti.

Demikianlah kisah dari Sultan Ageng Tirtayasa, seorang pahlawan nasional Indonesia. Kisah Sultan Ageng ini masih akan berlanjut dalam sekuel selanjutnya, don't miss it ;)
Sultan Ageng Tirtayasa - Mengalahkan Kudeta Anaknya Sendiri Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Melati Oktaviani
 

Top